Popular Posts

Trust And Obey

Aug18,

Kejadian 22:1-19

Kehidupan Abraham adalah kehidupan yang penuh dengan kisah perjalanan hidup seorang manusia yang tak menentu arahnya. Abraham seolah-olah seperti ”manusia yang bodoh” yang hidup hanya dengan bermodalkan kepercayaan dan ketaatan kepada Allah.

Tidak tahu ke mana dan bagaimana yang penting ikut saja apa yang menjadi maunya Allah. Janji Allah untuk memberikan keturunan kepadanya seakan-akan tak pernah akan terjadi. Memiliki anak di usia yang sudah tua? rasanya tidak mungkin terjadi.

Tetapi apa yang pernah Allah janjikan tidak mungkin Ia ingkari. Terkadang Allah ingin mempercepat ataupun mengulur sesuatu yang kita harapkan untuk menguji/melihat seperti apakah hati kita terhadap DIA. Sebagaimana Abraham yang menantikan janji Allah untuk memberikan kepadanya seorang keturunan. Setelah proses penantian yang begitu panjang, Allah menyatakan janjiNya kepada Abraham dan pada usia Abraham yang ke 100 tahun, Sara melahirkan Ishak.
Namun sayang kebahagiaan itu nampaknya tidak terlalu lama dirasakan oleh Abraham dan Sara sebab kemudian Allah datang dan meminta Abraham untuk mengorbankan Ishak anaknya yang tunggal dan yang sangat ia kasihi itu. Betapa hancur hati seorang Ayah tatkala ia harus mengorbankan anak yang sangat ia kasihi. Begitu cepatkah kebahagiaan itu harus berlalu? Bagaimana mungkin mempersembahkan harta yang paling berharga dalam hidup ini? D
Jika sepintas membaca kisah Abraham maka mungkin kita berpikir bahwa Allah itu kejam dan tidak adil. Namun Kej.22:1 menyatakan maksud Allah terhadap apa yang difirmankanNya kepada Abraham yaitu Allah hendak ”mencobai” Abraham. Kata ”mencoba” dalam bagian ini (ay.1) memiliki arti ”menguji” yang diadakan Allah sendiri untuk Abraham supaya terbukti apakah murni kepercayaan dan ketaatan Abraham kepada Allah. Dan jika kita perhatikan sebelum peristiwa ini telah beberapa kali Abraham mengalami ujian dari Allah, ia disuruh meninggalkan kelaparan (Kej.12:10), ditunda-tunda kelahiran anaknya (Kej.15:2; 17:18), kunjungan ketiga orang (Kej.18) dan sekarang harus mempersembahkan anak yang dikasihinya.
Dalam semua kegelisahannya, Abraham tetap taat melakukan perintah Allah. Jika Allah telah mengaruniakan Ishak itu adalah karena kemurahan Allah sekaligus menjadi bagian yang diterima Abraham karena kepercayaan dan ketaatannya kepada Allah. Kepercayaan dan ketaatan kepada kehendak Allah menghantar Abraham dengan bulat hati membawa Ishak untuk dijadikan korban persembahan bagi Allah. Ia tidak banyak bertanya apa yang menjadi alasan Allah karena Abraham yakin bahwa segala sesuatu ada karena Allah. Kisah Abraham hendak menunjukkan bahwa orang percaya hanya akan diuji oleh Allah sendiri bukan iblis.
Renungan:
Memasuki minggu-minggu sengsara ini, kita dihantar untuk belajar memahami kembali arti sebuah kepercayaan dan ketaatan kepada Tuhan. Kepercayaan adalah ketaatan terhadap panggilan Tuhan dengan selengkapnya: Tuhan dapat menuntut segala sesuatu dari manusia, juga yang berharga tinggi, juga buah kepercayaan sendiri. Dan manusia tidak dapat bertanya ”mengapa?.” Terhadap firman dan perintah Tuhan manusia hanya dapat bersujud dan taat dengan berdiam diri saja. Ketaatan Abraham adalah ketaatan yang berdiam diri; ketaatan yang tidak bertanya apa sebabnya, melainkan yang mulai bertindak, oleh karena dan sesuai dengan apa “yang dikatakan Allah kepadanya”.
Modal kehidupan orang percaya bukan terletak pada harta benda tetapi pada ketaatan. Apakah hatimu tetap percaya dan taat kepada Tuhan sekalipun saat ini engkau sedang menghadapi sebuah badai hidup yang begitu besar? Apakah hatimu tetap percaya dan taat kepada Allah sekalipun yang paling berharga dalam hidupmu diambil oleh Tuhan?

Paskah 2010

GKT News